Minggu, 15 Juni 2008

Nuklir dan biofuel bukan Solusi Pemanasan Global

Nuklir dan Biofuel Bukan Solusi Pemanasan GlobalBogor (ANTARA News)

- Penggunaan energi nuklir, tanaman hasil rekayasa genetik, tangkapan dan penyimpanan karbon, serta bahan bakar nabati (biofuel), bukan merupakan solusi mengatasi pemanasan global.Opsi-opsi tersebut justru akan membahayakan bagi lingkungan dan tidak menguntungkan bagi warga miskin, demikian pernyataan koalisi Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) di Indonesia yang diperoleh ANTARA di Bogor, Kamis.Pernyataan tersebut merupakan sikap koalisi LSM di Indonesia yang dikemukakan dalam pertemuan informal tingkat menteri mengenai perubahan iklim yang digelar di Istana Bogor pada 24-25 Oktober.Koalisi LSM tersebut antara lain terdiri dari Walhi, Yayasan Kehati, Masyarakat Penanggulangan Bencana Indonesia, Sawit Watch, Forest Watch Indonesia, WWF, Aliansi Masyarakat Adat Nusantara, Greenpeace Southeast Asia.Dalam pernyataan yang dibacakan oleh Farah Sofa dari Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) dalam pertemuan internasional tingkat menteri tersebut, Rabu (24/10), dikatakan, Indonesia adalah contoh negara yang telah dan akan menjadi korban perubahan iklim.Indonesia, kata dia, dituduh telah merusak hutan yang sangat bernilai bagi komunitas dunia. Di lain pihak, Indonesia juga dilihat sebagai sumber jangka panjang bahan baku industri dunia.Banyak negara berkembang lain juga menghadapi situasi serupa.Untuk mengantisipasi perubahan iklim dan membantu negara berkembang mengatasi dampaknya, negara-negara maju yang mempunyai tanggungjawab historis terbesar dan hingga saat ini masih menjadi penyumbang emisi gas rumahkaca harus melakukan aksi.Oleh karenanya, kata dia, setelah berakhirnya Protokol Kyoto pada 2012 diperlukan kesepakatan-kesepakatan baru antara Utara dan Selatan untuk secara bersama-sama melakukan upaya menghindari bencana iklim.Ia mengatakan, aksi-aksi yang dilakukan sekarang dan yang akan datang harus dilakukan berdasarkan prinsip tanggung jawab historis dan kapasitas untuk bertindak.Masalah penting yang harus dipecahkan adalah bagaimana menemukan jalan untuk pembangunan berkelanjutan di negara-negara berkembang yang tidak hanya mencakup perlindungan lingkungan, namun juga upaya meningkatkan standar hidup masyarakat dan menghapuskan kemiskinan dalam kerangka ekologi, serta mendorong kebijakan baru untuk pertanian, industri, perdagangan dan keuangan.Untuk itu, diperlukan koherensi dalam kebijakan baik di tingkat nasional maupun internasional, serta langkah-langkah untuk memecahkan masalah utang negara berkembang karena untuk membayar utang yang menumpuk itu, tak jarang negara berkembang justru merusak sumberdaya alam yang makin membuat mereka rawan terhadap dampak perubahan iklim.Di lain pihak, koalisi LSM juga mendorong negara-negara berkembang untuk menerapkan teknologi yang ramah lingkungan, yang juga bisa diakses oleh warga miskin.(*)
COPYRIGHT © 2007 Ketentuan Penggunaan Versi Cetak Beritahu Teman Beri Komentar
var addthis_pub = 'antons';

Bahaya Pemanasan Global

Bahaya Pemanasan Global Fino Yurio Kristo - detikinet-->
Google Earth (ist)

Inggris - Pengaruh pemanasan global terhadap planet bumi kini dipetakan di internet. Google merilis fitur di layanan onlinenya, Google Earth, untuk menunjukkan bagaimana keadaan bumi di tengah efek perubahan iklim dalam masa sampai 100 tahun mendatang.Memanfaatkan data dari lembaga pengetahuan British Met Office Hadley Centre dan British Antarctic Survey, animasi di Google Earth mengilustrasikan perubahan temperatur udara di berbagai negara.Misalnya saja, temperatur di Australia diprediksi akan meningkat 5 sampai delapan derajat celcius pada tahun 2099. Berbagai bahaya pun amat mengancam termasuk kegagalan panen, banjir dan hawa panas berlebihan.Efek terburuk kemungkinan melanda wilayah Artik yang pada tahun 2099 temperaturnya bisa naik sampai 18 derajat celcius. Hal ini hanya bisa dihindari jika emisi gas rumah kaca turun drastis.Seperti dikutip detikINET dari News.com, Jumat (23/5/2008), program pemetaan pemanasan global tersebut diluncurkan oleh Perdana Menteri Inggris, Gordon Brown. "Proyek ini menunjukkan realitas perubahan iklim dan efeknya bagi manusia di seluruh dunia. Kita bisa menghindari kemungkinan terburuk dengan beraksi mulai sekarang," papar Hilary Benn dari Departemen Lingkungan Inggris.

Dampak PeMaNaSan Glob@L

Dampak Pemanasan Global Mengerikan

Pemanasan global merupakan sesuatu yang tak terbantahkan lagi dan dapat menimbulkan dampak sangat mengerikan. Demikian salah satu pernyataan dalam laporan terakhir Panel PBB untuk Perubahan Iklim atau United Nations Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) yang diumumkan di Valencia, Sabtu (19/11).
Sekretaris Jendral PBB Ban Ki Moon menantang pemerintah negara-negara di seluruh dunia untuk melakukan aksi nyata mengatasi ancaman tersebut. Ia mengajak para pengambil kebijakan untuk merespon temuan ini dalam konferensi perubahan iklim di Bali yang akan digelar awal Desember 2007.
"Sangat mendesak, usaha global harus dilakukan," ujar Ban Ki-Moon, Sekretaris Jendral PBB. Ia berharap para pengambil kebijakan dari seluruh dunia dapat merespon temuan ini dalam konferensi perubahan iklim yang akan digelar di Bali mulai 3 Desember 2007.


Mengerikan

Laporan tersebut menyebut manusia sebagai biang utama pemanasan global. Emisi gas rumah kaca mengalami kenaikan 70 persen antara 1970 hingga 2004. Konsentrasi gas karbondioksida di atmosfer jauh lebih tinggi dari kandungan alaminya dalam 650 ribu tahun terakhir.

Rata-rata temperatur global telah naik 1,3 derajat Fahrenheit (setara 0,72 derat Celcius) dalam 100 tahun terakhir. Muka air laut mengalami kenaikan rata-rata 0,175 centimeter setiap tahun sejak 1961.
Sekitar 20 hingga 30 persen spesies tumbuh-tumbuhan dan hewan berisiko punah jika temperatur naik 2,7 derajat Fahrenheit (setara 1,5 derajat Celcius). Jika kenaikan temperatur mencapai 3 derajat Celcius, 40 hingga 70 persen spesies mungkin musnah.

Meski negara-negara miskin yang akan merasakan dampak sangat buruk, perubahan iklim juga melanda negara maju. Pada 2020, 75 juta hingga 250 juta penduduk Afrika akan kekurangan sumber air, penduduk kota-kota besar di Asia akan berisiko terlanda banjir dan rob. Di Eropa, kepuanahan spesies akan ekstensif. sementara di Amerika Utara, gelombang panas makin lama dan menyengat sehingga perebutan sumber air akan semakin tinggi.

Kondisi cuaca ektrim akan menjadi peristiwa rutin. Badai tropis akan lebih sering terjadi dan semakin besar intensitasnya. Gelombang panas dan hujan lebat akan melanda area yang lebih luas. Risiko terjadinya kebakaran hutan dan penyebaran penyakit meningkat.

Sementara itu, kekeringan akan menurunkan produktivitas lahan dan kualitas air. Kenaikan muka air laut akan memicu banjir lebih luas, mengasinkan air tawar, dan menggerus kawasan pesisir.